EDWIN ARDENER PDF

Melalui cara kerja yang dilakukan para antropolog tersebut diharapkan sebuah budaya akan dapat dideskripsikan dengan detail, komplet dan akurat. Pada pertengahan tahun , dua orang antropolog, Edwin Ardener seorang antropologis sosial dari Oxford University dan Shirley Ardener sebagai rekan kerjanya menunjukkan minat untuk melihat cara kerja para antropolog budaya tersebut di lapangan. Mereka melihat bahwa ternyata para antropolog melakukan penelitiannya dengan lebih banyak berbicara dan bertanya kepada kalangan laki-laki dewasa pada suatu budaya tertentu untuk kemudian mencatatnya dalam etnografi sebagai gambaran budaya secara keseluruhan. Para peneliti lapangan seringkali membenarkan kelalaian tersebut dengan melaporkan bahwa sulitnya menggunakan perempuan sebagai informan budayanya. Menurut mereka, perempuan muda terkikih-kikih, perempuan tua mendengus, mereka menolak pertanyaan dan menertawakannya, secara umum hal tersebut menyulitkan para peneliti yang dididik dalam metode penelitian saintifik yang maskulin.

Author:Yozshugore Faegis
Country:Colombia
Language:English (Spanish)
Genre:Finance
Published (Last):12 July 2015
Pages:399
PDF File Size:16.89 Mb
ePub File Size:18.47 Mb
ISBN:388-8-62028-966-5
Downloads:46735
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Vudozahn



Teori kelompok bungkam ini dirintis oleh antropolog Edwin Ardener dan Shirley Ardener. Meskipun demikian, melalui pengamatan yang lebih dalam, oleh Ardener bahasa dari suatu budaya memiliki bisa laki-laki yang melekat didalamnya,yaitu bahwa laki-laki menciptakan makna bagi suatu kelompok,dan bahwa suara perempuan ditindas atau dibungkam. Perempuan yang dibungkam ini dalam pengamatan Ardener,membawa kepada ketidakmampuan perempuan unutk tidak dengan lantang mengekspresikan dirinya dalam dunia yang didominasi laki-laki.

Shirley Ardener menambahkan pada teori tersebut dengan menunjuikan bahwa diamnya perempuan memiliki beberapa alasan dan ini terbukti dalam situasi percakapan dilingkungan orang banyak. Perempuan merasa kurang nyaman dan kurang ekspresif dalam situasi public dibandingkan laki-laki,dan mereka merasa kurang nyaman dalam situasi public disbanding dalam situasi pribadi.

Perempuan memperhatikan apa yang dikatakannya dan menerjemahkannya apa yang dia rasakan dan pikirkan kedalam terminology laki-laki. Jadi, perempuan adalah tetap sebagai pihak terbungkam. Teoretisi komuniikasi Cheris Kramarae memperluas dan melengkapi teori bungkam ini dengan penikiran dan penelitian mengenai perempuan dan komunikasi. Perempuan menanggapi dunia secara berbeda dari laki-laki karena pengalaman dan aktifitasnya berbeda yang berakar pada pembagian kerja. Karena dominasi politiknya,system persepsi laki-laki menjadi lebih dominan,menghambat ekspresi bebas bagi pemikiran alternative perempuan.

Untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat,peremuan harus mengubah perspektif mereka dalam system ekspresi yangf dapat diterima laki-laki. Kramarae mengemukakan sejumlah hipotesis mengenai komunikasi perempuan berdasarkan beberapan temuan penelitian. Pertama, perumpuan lebih banyak mengalami kesulitan dalam mengekspresikan diri dibandingkan laki-laki.

Ekspresi perempuan biasanya kekurangan kata untuk pengalaman yang feminine, karena laki-laki tidak berbagi pengalaman tersebut,tidak mengembangkan istilah-istilah yang memadai. Kedua,perempuan lebih mudah memahami mnakna laki-laki daripada laki-laki memahami perempuan. Laki-laki dapat menrkan perempuan dan merasionalkan tindakan tersebut dengan dasar perempuan tidak cukup rasional atau jelas, jadi perempuan harus mempelajari system konunikasi laki-laki,sebaliknya laki-laki mengisolasikan dirinya dari system perempuan.

Hipotesis ini bahwa pada asumsi ketiga: perempuan telah menciptakan cara-cra ekspresinya sendiri diluar system laki-laki yang dominansurat,diary,kelompok-kelompok penyadaran,dan bentuk-bentuk seni alternative adalah beberapa contoh.

Keempat,perempuan cenderung mengekpresikanlebih banyakketidak puasan komunikasi dibanding laki-laki.

KTS SARAO JAPAN PDF

Muted Group Theory: A Tool for Hearing Marginalized Voices

Teori kelompok bungkam ini dirintis oleh antropolog Edwin Ardener dan Shirley Ardener. Meskipun demikian, melalui pengamatan yang lebih dalam, oleh Ardener bahasa dari suatu budaya memiliki bisa laki-laki yang melekat didalamnya,yaitu bahwa laki-laki menciptakan makna bagi suatu kelompok,dan bahwa suara perempuan ditindas atau dibungkam. Perempuan yang dibungkam ini dalam pengamatan Ardener,membawa kepada ketidakmampuan perempuan unutk tidak dengan lantang mengekspresikan dirinya dalam dunia yang didominasi laki-laki. Shirley Ardener menambahkan pada teori tersebut dengan menunjuikan bahwa diamnya perempuan memiliki beberapa alasan dan ini terbukti dalam situasi percakapan dilingkungan orang banyak. Perempuan merasa kurang nyaman dan kurang ekspresif dalam situasi public dibandingkan laki-laki,dan mereka merasa kurang nyaman dalam situasi public disbanding dalam situasi pribadi. Perempuan memperhatikan apa yang dikatakannya dan menerjemahkannya apa yang dia rasakan dan pikirkan kedalam terminology laki-laki. Jadi, perempuan adalah tetap sebagai pihak terbungkam.

CIM COTIF PDF

Edwin W. Ardener

The theory states that language was mainly made by men. Women often find it harder to express themselves because they have to communicate through a language that was made by the opposite gender. Some examples are: Women are often referred to as the property of men e. Women have spent their whole lives trying to translate their thoughts into masculine metaphors war metaphors, sports metaphors, etc.

Related Articles